review komen pengunjung blog ini
Posted by nasriza on Selasa, 7 Juli 2009
kebetulan bongkar2 komen dari pengunjung (oogh.. thanx god sempet2`na^_~)
berikut adalah isinya :
komentar katanya dari:
Irma Silaban
silabanirma6 at gmail.com
61.247.18.142
postingnya liat aja disini :
http://nasriza.blogdetik.com/wp-admin/post.php?action=edit&post=117
Submitted on 2008/08/29 at 1:01pm
Aku mendapat semua di bawah ini di email saya. Caranya mungkin tidak sopan masuk tanpa permisi tapi tidak apa-apa aku suka dan setuju sekali dengan pandangan-pandangan Sydney Jones. Obyektif dan fakta Indonesia. Bagus dan saya suka ada opini-opini cerdas seperti ini. Dia sangat obyektf meskipun dia peneliti Barat. Ada tanggapan-tanggapan lumayan juga di bawahnya. Rakyat dibuat cerdas. Rakyat akan lawan penjahat-penjahat di negeri ini yang mengaku pemimpin-pemimpin tapi membuat rakyat menderta terus. Televisi-televisi di Indonesia memang gombal. Mengapa belum ada TV independen. TVRI yang konon milik publik juga ditekan pemerintah. Di sini saya pikir perlunya penyebaran borok-borok pemerintah Indonesia saat ini dan terdahulu untuk sebuah kesadaran nasional agar kita ke depan memperoleh pemimpin dan pemerintah yang baik seperti di negara-negara lain. Mari kita sebar ini ke teman-teman mahasiswa ke siapasaja yang perduli nasib rakyat dan bangsa. Sering hubungi saya silabanirma6 at gmail.com , kalau ada yang bagus seperti ini akan saya email ke kalian. Selamat membaca meski panjang panjang tapi bagus kok.
Papua dan Aceh berhak merdeka seperti Abkhazia dan Ossetia Selatan
Oleh Sydney Jones ( sydneyjones2008 at yahoo.com)
Pengamat Indonesia dan Internasional warga Amerika
Abkhazia dan Ossetia Selatan telah diakui merdeka oleh parlemen dan pemerintah Rusia, buntut kejengkelan Rusia akibat Kosovo dimerdekakan Amerika. Mengapa Papua dan Aceh tidak. Lagi lagi inilah kebijakan berkepala dua Amerika.
Papua dan Aceh yang tidur mampukah menyusul Kosovo, Abkhazia dan Ossetia Selatan atau saudaranya Timor Timur. Tidak seperti Papua dan Aceh yang lama berjuang untuk merdeka tetapi selalu gagal dan digagalkan, kedua republik Abkhazia dan Ossetia Selatan menyatakan merdeka dan memisahkan diri baru tahun 1990 dan kini sudah merdeka. Sebelumnya kedua wiilayah itu masing masing mulai punya sendiri president, bendera, lagu kebangsaan, tentara nasional dan juga dukungan, dalam hal ini, Moskow. Mau apalagi Saakashvili, boneka Amerika, dan George Bush, pencipta boneka.
Pertengahan Agustus 2008 parlemen Rusia menyetujui kemerdekaan kedua republik yang didukung Presiden Rusia Dmitry Medvedev. Inilah pukulan sakit sekali bagi Saakashvili dan George Bush.
Kedua majelis di parlemen Rusia minggu ini menghadiahi dengan suara mutlak dan meminta Medvedev mengakui kemerdekaaan Abkhazia dan Ossetia Selatan. Kedua majelis telah mengadakan sidang darurat untuk memperdebatkan masa depan Abkhazia dan Ossetia Selatan, kedua republik tidak diakui Barat dan negara negara boneka mereka. Presiden Saakashvili terutama, tidak mengakui dan justru melakukan agresi ngawur terhadap Ossetia Selatan dan Abkhazia yang sudah menyatakan merdeka sejak 1990. Pun kedua republik sudah lama memenuhi persyaratan sebagai negara. Keduanya punya sendiri president, bendera, lagu kebangsaan, tentara nasional dan dukungan Moskow. Mau apalagi Saakashvili yang dipanas panasi dikompori Bush.
Saakhashvili bersikeras tidak akan melepas Abkhazia dan Ossetia Selatan. Sakhashvili rupanya anak emas George Bush. Bush hampir selesai jadi presiden tetapi pusing karena jagonya McCain kemungkinan tidak terpilih. Sementara media Barat membodohi negara berkembang dengan liputan rekayasa melalui sebuah organisasi buatan lobi haram di markasnya di Belgia dengan berita berita fitnah bahwa Rusia lebih dulu menyerang Georgia, berita berita yang dilansir tanpa fikir sebagian besar televisi di negara berkembang terutama di Indonesia dengan tujuan semata bisnis dan cari iklan dengan kedok menunjang pemilu, tanpa berani membongkar kekeliruan kekeliruan kebijakan kebijakan pemerintah dan hanya ikut memperlihatkan kulit korupsi, permainan Metro TV yang dikomando Suya Paloh orang Golkar. Kalau MetroTV masih membebek terus media Barat tanpa analisa kuat maka akan digilas rakyat; kini rakyat punya potensi bara kuasa terpendam yang siap hancurkan media yang tidak fair. Sudah selesai era Barat saya kira meski saya orang Barat.
Sedikit menyinggung Golkar ini partai sejak dulu memang licik dan menjerumuskan kejam rakyat Indonesia. Itulah 63 merdeka rakyat dibuat bodoh. Kini Golkar berusaha gandeng PDIP untuk lezat dikhianati dan dimanfaatkan. Jelas ini peluang bagi PAN bersama Gerindra, atau Hanura, yang punya pentolan dua tokoh berkualitas internasional seperti Prabowo dan Amien Rais di satu sisi dan pentolan tua militer karir di sisi lain untuk rebut pemerintahan, sementara partai-partai Islam moderat dan konservatif harus dukung dua tokoh intelektual terpinggirkan tersebut. Sayang rakyat yang terlanjur kurang pengetahuan selalu tertipu untuk kesekian kali dan tidak mampu melihat bahwa sebuah negara harus dipimpin tokoh-tokoh seperti Amien Rais dan Prabowo. Yahya Muhaimin atau Gus Dur bisa main cantik dengan bergabung mana tokoh yang lebih perduli kepada rakyat. Saatnya Wiranto melalui Hanura yang didukung dana tidak terbatas oleh keluarga terkuat untuk sebaiknya tidak maju dan besar hati mendukung Prabowo dan Amien Rais. Wiranto bisa menjadi Menhan saja nanti. Di sudut lain saya kira perkawinan Golkar-PDIP hanya kebodohan suami Megawati dan ini akan membuahkan pecundang bagi PDIP yang berarti Megawati akan gagal.
Kembali ke soal Ossetia Selatan.Dalam rangkaian sidang darurat, Dewan Federasi atau, majelis tinggi, menyetujui penambahan pengiriman pasukan penjaga perdamaian Rusia ke kawasan konflik di dekat Georgia sebagai reaksi penyamaran Barat mengirim peralatan militer termoderen dengan kedok bantuan pangan kemanusiaan, kecurangan Barat terutama Amerika akibat kemenangan partai republik di Amerika didominasi kelompok konservatif seperti Bush yang terus menciptakan pemimpin pemimpin boneka di negara negara berkembang.
Duma, majelis rendah, telah meminta organisasi organisasi parlemen internasional dan parlemen parlemen dari negara negara anggota PBB mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan. Saat dumulai sidang darurat Dewan Federasi di Moskow, presiden presiden kedua republik yang memisahkan diri menyatakan menolak mentah mentah menjadi bagian Negara Kesatuan Georgia (NKG).
Dalam pidatonya Presiden Ossetia Selatan, Eduard Kokoity, menyatakan Ossetia Selatan dan Abkhazia yang tidak diakui banyak negara sebetulnya lebih berhak merdeka daripada Kosovo. Dalam pidatonya, ketua Duma, Boris Gryzlov, menyebut tindakan agresi Georgia membunuh ratusan warga sipil di Ossetia Selatan merupakan genosida dan agresi Sakhashvili sama dengan agresi Nazi German atas Uni Soviet dahulu.
Dalam konteks Indonesia saya kira Papua dan Aceh pun berhak merdeka dan tidak tepat lagi didikte pemimpin Indonesia boneka Amerika. Kalau Kosovo berhak merdeka dan dimerdekakan Amerika, Papua dan Aceh pun berhak merdeka dan dimerdekakan. Presiden Abkhazia Sergey Bagapsh menyatakan Abkhazia maupun Ossetia Selatan juga tidak mau lagi hidup dalam kepemimpinan penindasan gaya Saakashvili yang dibeking Bush dan tidak mau lagi berada dalam NKG.
Reaksi Internasional. Atas suara sangat mutlak Parlemen Rusia, Uni Eropa (EU) mengeluarkan pernyataan bahwa Ossetia Selatan dan Abkhazia harus di bawah NKG. Inilah kebijakan berkepala dua Amerika lagi lagi yang juga menekan EU.
Sementara Estonia, Latvia and Lithuania, boneka boneka Amerika, menyatakan kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan tidak bisa diterima. Kecurangan boneka boneka yang menerima begitu saja kemauan Barat. Dalam konteks Indonesia mengapa Washington dan Jakarta tidak memberikan kemerdekaan kepada Papua dan Aceh adalah karena apabila kedua wilayah tersebut juga merdeka, Jakarta khususnya akan kehilangan kue lezat besar hasil kekayaan alam Papua dan Aceh yang selama ini dirampas pusat dan bukan untuk membangun fasilitas fasilitas berorientasi rakyat atau mensejahterakan rakyat Indonesia. Sampai di sini Barat memang tidak adil karena mendukung Kosovo merdeka. Sementara Papua dan Aceh tidak didukung merdeka. Demokrasi jahat berbulu kepentingan ekonomi dan lagi lagi berkepala dua.
Seorang pengamat Jerman, teman saya, menyatakan setiap wilayah yang memenuhi persyaratan berdiri sendiri berhak menjadi negara merdeka. “Kalau sudah punya presiden, tentara, lagu kebangsaan dan lainnya, itu hak mereka untuk merdeka,” ujarnya.
Seorang pengamat Prancis, teman saya, menyatakan pemimpin pemimpin Barat menciptakan boneka boneka di negara negara berkembang untuk penjajahan halus gaya baru agar bisa mengeruk kekayaan wilayah wilayah kaya di negara negara itu. “(Mereka) memperdaya bangsa bangsa dengan boneka boneka mereka,” ujarnya.
Seorang pendukung di partai demokrat Amerika, saya kenal baik, menyatakan kunci penyelesaian konflik di manapun adalah mengakui dan memberi kemerdekaan wilayah agar masyarakatnya dapat menikmati kesejahteraan dan tidak dibuat miskin terus.
Seorang pengamat Inggris, teman saya, menyatakan prakarsa parlemen Rusia yang mengakui Abkhazia dan Ossetia Selatan merdeka tentu saja akan meningkatkan ketegangan di kawasan Kaukasus tetapi semua karena ambisi presiden Georgia. “Saakashvili seperti anak kecil, dia girang karena didukung Bush dalam agresi dan Bush frustrasi lantaran McCain yang mungkin akan kalah di pemilu mencoba pengaruhi para pemilih di Amerika dengan semangat agresi,” ujarnya.
Jalan berbatu menuju merdeka. Ossetia Selatan, berbatasan dengan Rusia di Kaukasus selatan dan Abkhazia di Laut Hitam, sudah menyatakan merdeka dari Georgia sejak 1990, setelah referendum dengan suara terbanyak memilih merdeka. Tetapi hasil itu diabaikan Tbilisi. Agresi Saakashvili di Ossetia Selatan baru baru ini yang menelan korban warga sipil membangkitkan pentingnya merdeka bagi wilayah manapun yang kekayaannya dikeruk penguasa yang berkolusi pihak luar. Dan saya kira sangat pilu kalau kekayaan ditelan penguasa dan bukan membangun prasarana berorientasi rakyat.
Dalam konteks Indonesia, permasalahan di wilayah wilayah seperti Papua dan Aceh yang meminta kemerdekaan itu wajar. Kekayaan tanah air wilayah mereka dicuri penguasa pusat yang berkolusi dengan pihak luar, negara maju. Dalam hal konflik di Georgia saat ini dapat ditelusuri dari kebijakan perpecahan dan penaklukan Joseph Stalin, etnis campuran Georgia dan Ossetia. Sebelum revolusi 1917 kelompok kelompok etnis di Kaukasus hidup terpisah dari Russia. Akan tetapi setelah revolusi terjadi peta menjadi berubah, Ossetia Selatan dan Abkhazia menjadi bagian NKG. Pada konteks Indonesia dahulu di masa sebelum Indonesia mengklaim merdeka, Papua dan Aceh bukan bagian negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Kembali ke konteks Ossetia Selatan dan Abkhazia. Setelah Uni Soviet runtuh, pemimpin Georgia waktu itu, Zviad Gamsakhurdia, mencaplok wilayah Abkhazia dan wilayah Ossetia Selatan dengan ambisi pribadi sama halnya Sukarno dengan kedok negara kesatuan. “Georgia untuk etnis Georgia,” kata Gamsakhurdia. Seperti halnya kata Sukarno “Indonesia untuk bangsa Indonesia”. Tetapi saya kira sampai momen momen ini belum ada bangsa Indonesia, dan yang ada berbagai bangsa dan etnis yang ditipu penguasa di Indonesia.
Kasus konflik Georgia Ossetia Selatan terjadi akibat permainan Bush yang cemburu atas mulai makmur luarbiasanya Rusia akibat eksplorasi besar besaran Rusia untuk semata mensejahterakan rakyat dan membangun negara dalam artian luas, di mana Ossetia Selatan dan Abkhazia di bawah pengaruh Rusia, negara tetangga mereka, dan tidak bersedia di bawah NKG dari kacamata Saakashvili. Dia dikomando Bush melakukan agresi atas Ossetia Selatan. Bush membelokkan dengan pura pura bersenang di Olimpiade Beijing. Vladimir Putin, perdana menteri Rusia, pun terperdaya ikut lihat pembukaan Olimpiade Beijing. Tanggal 8 Agustus malam, Saakashvili berpidato di televisi nasional dengan mengatakan “Wahai rakyat di Ossetia Selatan, selamat tidur nyenyak”. Tetapi yang didapat rakyat Ossetia Selatan justru “serangan bertubi tubi roket roket maut pasukan yang dikomando Saakashvili”, senjata hidup berbahaya hasil ciptaan Washington. Ribuan warga sipil tidak berdosa mati. Di siangnya anak anak serta nenek dilindas tank di mana Saakashvili sebagai panglima tertinggi. Media media Barat disuap pemerintahnya menuduh Rusia agresor.
Sejak menjadi presiden 2004 dengan menyerbu paksa sidang Parlemen dan menjatuhkan Shervanadze, Saakashvili praktis telah menjadi boneka Amerika seperti juga boneka boneka di manapun. Saakashvili menindas para demonstran dengan kasar dan menindas halus masyarakatnya dengan harga harga tinggi. Saya kira ini sama juga yang dilakukan Jakarta.
Kini, Abkhazia dan Ossetia Selatan masing masing sudah punya sendiri president, bendera, lagu kebangsaan, tentara nasional dan dukungan setidaknya Moskow. Apalagi yang ingin dilakukan Washington. Bagaimana dengan Jakarta. Masih mengekang agar Papua dan Aceh tidak merdeka dan tidak membantu kemerdekaan mereka. Atau Jakarta tetap dengan presiden seperti sekarang ini. Persetujuan Rusia atas kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia Selatan merupakan buntut kejengkelan Rusia atas Kosovo yang dimerdekakan Barat. Mengapa Papua dan Aceh tidak. Lagi lagi ini kebijakan berkepala dua Washington yang berkolusi dengan boneka setempat. Pada konteks Papua dan Aceh yang tidak punya dukungan seperti Abkhazia dan Ossetia Selatan tentu saja akan sulit merdeka. Saya tidak tahu kalau rakyat Papua atau Aceh mengusahakan ke arah itu dn ini tentu saja harus dengan beking yang berbeda: Aceh oleh Kremlin atau lainnya, Papua oleh Washington. Siapa tahu. Kecuali kalau Indonesia memilih Negara Federasi tentu saja akan lebih baik buat rakyat Indonesia keseluruhan. ***
Pemimpin di Indonesia suka sengsarain Rakyat
Suprapto
/boleh djangkau di: supraptom096 at gmail.com /
Jangan harep Papua dan Aceh bisa merdeka kalau pemimpin di Indonesia semua tahu tetap bermental sama dengan yang lama, suka sengsarain rakyat sendiri. Rakyat juga yang salah.
Mudah dipecah belah dengan macam-macam isu, alasan, rekayasa, teori-teori yang sengaja dikucur ke bawahan hingga suara menjadi seragam bahwa A itu A dan rakyat terima tanpa pikir.
Aku hanya yakin kecuali kalau ada revolusi maka merdeka Papua dan Aceh dan lainnya akan datang sendiri. Teori-teori bahwa ini dan itu demi NKRI hanya bohong belaka agar rakyat terus mudah ditipu.
Juga selama Golkar dan orang-orang lama masih bercokol jangan berharap ada yang berubah seperti sejatinya perubahan.
Bagaimana mau merdeka
Setyo di ahmsetyo24 at centrin.net.id
Gimana mau merdeka kalau ribuan orang beragama slam di Indonesia sudah diciptakan menjadi ribuan tokoh seperti tokoh terkenal Belanda yang menjajah Aceh dulu yang apal alquaran yang menipu dan menidurkan rakyat Aceh. Mana mungkin Aceh merdeka. Suku suku di sini dicekoki agama yang dipolitisir agar rakyat diam kok. Lucu sekali Sydney. Mestinya dia tahu itu, pura pura nggak tahu kali.
Keharuan itu tidak kelihatan di sini. Ada apa dengan Indonesia
By Rebecca James rbccjames at gmail.com
Reaction on Sydney’s
Hi Sedney. Saya juga tinggal di Indonesia dan berharap ada komentar-komentar seperti anda. Tetapi anda tidak melukiskan suasana perayaan sederhana mengharukan tetapi dalam suasana gembira masyarakat Abkhazia yang disusul masyarakat Ossetia Selatan.
Mereka terharu dan gembira sebab justru Rusia negara besar pertama yang mengakui kemerdekaan itu. Sedangkan Barat tetap tidak mengakui dan mengecam pengakuan oleh Russia. Ini bukti bahwa Barat yang suka bicara lantang demokrasi dan HAM ternyata pembohong dan melanggar HAM sendiri di atas kepentingan nasional mereka. Jadi bukan hanya berkepala dua seperti yang anda bilang tetapi sudah berkepala seratus. Sedangkan Rusia negara bekas komunis itu justru lebih demokrastis lebih ber-HAM.
Saya ikut terharu dan berkaca-kaca saat melihat pasangan muda-mudi dengan latar belakang beberapa orang berwajah ceria bilang pada sebuah televisi Rusia “kami telah perjuangkan kemerdekaan ini lebih dari 18 tahun.”
Benar, kemerdekaan itu sudah mulai diakui sekurangnya oleh negara tetangga mereka sendiri, Rusia, sebuah negara besar.
Semua orang yang anti penjajahan langsung maupun tidak langsung niscaya berharap “boneka-boneka Barat seperti pemerintah di Indonesia” sadar atas kekeliruannya selama ini yang menghamba pada Barat kemudian berbalik menentang tidak kelihatan terhadap Barat, dan ikut mengakui kemerdekaan Abkhazia dan Ossetia-Selatan. Jadi tidak hanya ikut mengakui Kosovo yang dimerdekakan Barat. Pengakuan ini penting sebab Indonesia berjanji atas nama Tuhan dan itu selalu disebut berkali-kali pada Konstitusi bahwa kemerdekaan akan dibuktikan berupa kemakmuran dan berkeadilan. Melaksanakan merdeka berarti bukan hanya bicara tetapi membuktikan dengan kesejahteraan bagi rakyat secara keseluruhan dan membangun seperti yang anda lukiskan “fasilitas publik berorientasi rakyat”, yang anda maksud tentu transportasi masal seperti kereta-kereta api nyaman cepat untuk seluruh masyarakat Indonesia dan tentu bukan jalan tol hanya untuk orang berada bukan.
Namun saya percaya segala keterlenaan pemimpin Indonesia ini karena televisi-televisi di Indonesia, media yang sangat potensial mengubah sistem, tidak punya komitmen mentransformasi Indonesia menjadi seperti negara-negara yang bertekad memakmurkan rakyat keseluruhan. Televisi-televisi di Indonesia samasekali tidak memperlihatkan kepada rakyat dan pemerintahnya apa yang dilakukan negara-negara lain yang cepat maju. Oleh karena itu keharuan kemerdekaan Ossetia-Selatan dan Abkhazia tidak ada di televisi-televisi terutama televisi-televisi berita di Indonesia. Tentu Indonesia yang mengklaim berkebijakan netral atau bebas-aktif tidak pantas ikut CNN dan teman-temannya sebab mereka sangat pro Barat dan tidak netral. Iwan Fals, penyanyi kritikus itu, benar saat mengatakan “televisi” di Indonesia “hanya mencari iklan”. Ada apa dengan Indonesia.
Ringkasan perang berdarah Georgia di Ossetia Selatan
Oleh Sydney Jones ( sydneyjones2008 at yahoo.com)
Pengamat Indonesia dan Internasional warga Amerika
Konflik di kawasan ini membuat Ossetia Selatan dan Abkhazia meminta negara negara di seluruh dunia bersedia mengakui secara resmi kemerdekaan kedua republik tersebut yang memisahkan diri dari Georgia. Kapan Papua, dan Aceh yang dibuat tidur, menyusul merdeka.
Mendekati tengah malam 7 Agustus, tembakan gencar roket roket militer Georgia menghantam Tskhinvali, ibukota Ossetia Selatan. Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Presiden Georgia Mikhail Saakashvili mengumumkan genjatan senjata. Dia mengatakan “Selamat tidur warga Ossetia Selatan”. Tetapi apa yang diterima warga sipil itu adalah “tembakan roket bertubi tubi” di Tskhinvali. Sebelum pengumuman tersebut tembak menembak berlangsung antara tentara Georgia dan tentara Ossetia Selatan.
Roket roket mortir Georgia dibeking pesawat pesawat tempurnya itu menghajar sasaran sasaran dan gedung gedung di Tskhinvali. Pagi buta operasi militer Tbilisi dengan sandi “Medan Bersih” ini dibeking unit unit infantri dan tank tank.
Medvedev, dan Putin yang segera pulang dari sekitar pembukaan Olimpiade Beijing, tertipu Bush untuk bersama santai di Beijing sementara Ossetia Selatan diserang Georgia, meminta sidang khusus DK PBB untuk mengakhiri agresi itu.
Tetapi Georgia menyatakan serangan dimaksudkan memulihkan ketertiban sesuai konstitusi Georgia. Rapat malam di New York melihat Menteri luar negeri Georgia meminta Washington agar membantu Georgia tidak terkabulkan. Akan tetapi pasukan Georgia tetap memasuki Tskhinvali dan menyerang pos pos pemeriksaan yang dijaga tentara penjaga perdamaian Rusia.
Jumat malam tanggal 8 Agustus, Tskhinvali dikuasai pasukan Georgia. Warga sipil, wartawan, dan tentara Rusia berlindung di gudang gudang bawah tanah.
Banyak warga Ossetia Selatan berpaspor Rusia. Konstitusi Rusia mengamanatkan negara / pemerintah melindungi setiap warga negaranya. Dmitry Medvedev selaku presiden Rusia memerintahkan unit 58 Rusia memasuki zona konflik melindunginya.
Ketika tank tank Rusia mendekati kota yang hancur karena diserang Georgia, Saakashvili berdusta dengan menyatakan bahwa Rusia melakukan agresi lebih dahulu terhadap Georgia. Tetapi bukti menunjukkan ratusan warga sipil termasuk anggota tentara tentara penjaga perdamaian Rusia mati dalam serangan Georgia atas Tskhinvali.
Hari kedua perang tembakan roket bertubi tubi atas ibukota tersebut dan desa desa di dekatnya tidak berhenti juga. Saat pasukan Rusia memasuki Ossetia Selatan pertempuran pecah di jalan jalan mengakibatkan ribuan warga berlarian. Pesawat pesawat tempur Rusia membalas dengan menyerang target target militer di Georgia. Tetapi Saakashvili lagi lagi pandai membuat alasan bahwa pesawat pesawat Rusia mengambil target gedung gedung sipil dan bahwa puluhan warga mati akibat serangan Rusia ke kota Gori.
Dekat hari ketiga perang itu unit unit pasukan Georgia sebagian berhasil diusir ke luar Tskhinvali. Rapat lagi Dewan Kemanan PBB gagal menghasilkan keputusan. Sungguh aneh sebab kebanyakan utusan mengkritik Rusia bukan Georgia padahal adalah Tbilisi yang pertama memulai serangan militer tiba tiba itu.
Hari keempat perang, Georgia membuat pengumuman genjatan senjata. Lagi lagi ini kecurangan Saakashvili yang dibeking rahasia Bush. The hit and run tactics. Dan dua hari setelah pengumuman itu pasukan Georgia tidak berhenti menyerang dan tetap saja menembakkan roket roketnya ke Ossetia Selatan. ratusan orang sipil terbunuh dan 35.000 menyelamatkan diri ke republik Ossetia Utara.
Hari kelima perang kilat itu Dmitry Medvedev, presiden Rusia, dan Nicolas sarkozy, presiden Perancis, membuat perjanjian enam butir untuk mengakhiri peperangan. Perjanjian ditandatangani dengan pura pura jengkel oleh Saakashvili di Tbilisi sebagai yang memulai agresi.
Sementara karena khawatir Saakashvili bisa saja menyerang lagi maka unit unit pasukan Rusia tetap berjaga jaga di kota Gori di wilayah Georgia. Rusia tidak ingin kecolongan meskipun tekanan tinggi oleh Barat yang berpedoman pada media televisi sendiri agar Rusia segera menarik mundur pasukannya.
13 Agustus dinyatakan hari berkabung di seluruh Rusia untuk mengenang mereka yang terbunuh atau gugur dalam agresi Georgia. Rusia saat ini sudah menarik mundur pasukannya dari wilayah Georgia kembali ke posisi posisi menjaga pedamaian sebelumnya. Bagaimana Papua dan Aceh.
Kapan
















